Notification

×

Iklan

Iklan

Most Popular Tags

Menguak Industri Film Panas Di jepang

Senin, 16 Maret 2015 | Maret 16, 2015 WIB Last Updated 2021-11-13T04:56:48Z
    Share



Selain Amerika, Jepang menjadi negara produsen film erotis terbanyak. Bahkan industri ini diminati oleh remaja wanita untuk mencari uang tambahan. Pornografi di Jepang ternyata merupakan hak yang bebas dan legal. Bebas dalam artian, boleh memproduksi baik berupa film, majalah, buku, foto, alat peraga yang dijual dan didistribusikan.

Untuk film, Jepang memiliki industri yang sangat besar. Mereka memproduksi banyak film dan diminati di seluruh dunia karena fantasi sarat ceritanya yang cukup radikal. Sebuah wilayah abu-abu akan industri yang masif ini akhirnya dikuak dan banyak fakta-fakta di balik pembuatan film tersebut.

Dilansir dari The Week.com, film porno Jepang disukai karena ceritanya yang terkadang penuh fantasi dan dianggap nyata. Namun sebenarnya, itu adalah manipulasi dari sutradara. Seperti dalam sebuah scene pemerkosaan atau hubungan seksual di tempat umum, sebenarnya itu hanya rekayasa.

Meski dilegalkan, tetapi ada aturan yang ketat dalam industri film porno. Jika syuting dilakukan di tempat umum, maka production house tadi akan dikenai sanksi sesuai undang-undang. Tak hanya manipulasi cerita, bahkan lenguhan gairah yang diumbar pun juga palsu.

Sebenarnya saat bercinta wanita tidak berisik seperti film-film porno Jepang, tetapi bakal terlihat aneh jika sebuah film porno hanya terdengar desahan dan tanpa suara.

Sementara DBV.com menambahkan, untuk merangsang otak penontonnya, maka film-film tersebut menambahkan suara jeritan dan racauan, seolah-olah mendapat gairah yang begitu luar biasa. Walau terkadang sangat mengganggu, tetapi film porno Jepang sangat diminati khususnya di Indonesia.

Di Jepang industri film porno memang dilegalkan dengan alasan untuk menekan tindak kejahatan seksual. Dan Ternyata upaya itu benar, sangat mencengangkan ternyata angka pemerkosaan ataupun pelecehan seksual di sana sangat rendah.

Dari catatan kepolisian, tak ada catatan kejahatan diakibatkan kecanduan film porno. Selain itu, hukuman yang dijatuhkan juga sangat berat sehingga mereka tidak mau mengambil resiko untuk berbuat jahat secara rendahan seperti itu. Hmmm... (sooperboy)
Selain Amerika, Jepang menjadi negara produsen film erotis terbanyak. Bahkan industri ini diminati oleh remaja wanita untuk mencari uang tambahan. Pornografi di Jepang ternyata merupakan hak yang bebas dan legal. Bebas dalam artian, boleh memproduksi baik berupa film, majalah, buku, foto, alat peraga yang dijual dan didistribusikan.

Untuk film, Jepang memiliki industri yang sangat besar. Mereka memproduksi banyak film dan diminati di seluruh dunia karena fantasi sarat ceritanya yang cukup radikal. Sebuah wilayah abu-abu akan industri yang masif ini akhirnya dikuak dan banyak fakta-fakta di balik pembuatan film tersebut.

Dilansir dari The Week.com, film porno Jepang disukai karena ceritanya yang terkadang penuh fantasi dan dianggap nyata. Namun sebenarnya, itu adalah manipulasi dari sutradara. Seperti dalam sebuah scene pemerkosaan atau hubungan seksual di tempat umum, sebenarnya itu hanya rekayasa.

Meski dilegalkan, tetapi ada aturan yang ketat dalam industri film porno. Jika syuting dilakukan di tempat umum, maka production house tadi akan dikenai sanksi sesuai undang-undang. Tak hanya manipulasi cerita, bahkan lenguhan gairah yang diumbar pun juga palsu.

Sebenarnya saat bercinta wanita tidak berisik seperti film-film porno Jepang, tetapi bakal terlihat aneh jika sebuah film porno hanya terdengar desahan dan tanpa suara.

Sementara DBV.com menambahkan, untuk merangsang otak penontonnya, maka film-film tersebut menambahkan suara jeritan dan racauan, seolah-olah mendapat gairah yang begitu luar biasa. Walau terkadang sangat mengganggu, tetapi film porno Jepang sangat diminati khususnya di Indonesia.

Di Jepang industri film porno memang dilegalkan dengan alasan untuk menekan tindak kejahatan seksual. Dan Ternyata upaya itu benar, sangat mencengangkan ternyata angka pemerkosaan ataupun pelecehan seksual di sana sangat rendah.

Dari catatan kepolisian, tak ada catatan kejahatan diakibatkan kecanduan film porno. Selain itu, hukuman yang dijatuhkan juga sangat berat sehingga mereka tidak mau mengambil resiko untuk berbuat jahat secara rendahan seperti itu. Hmmm... (sooperboy.com)

3